Select Menu

Ads

Random Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Lorem 1

Technology

Circle Gallery

KRIMINAL

Racing

News

Lorem 4

» »Unlabelled » CERITA PENDEK

AKSARA KEAJAIBAN


Kantornya belum tutup, namun sengaja tidak dibuka. Sebenarnya tempat itu hanyalah sebuah bangunan kecil, dinding dan pintunya terbuat dari kayu. Dan hanya ada sedikit perabot di dalamnya. Ada duah buah meja dan dua kursi yang saling berhadapan, tidak jauh dari pintu masuk ada sebuah bangku panjang, tempat biasanya orang-orang menunggu. Zaza sedang tertidur di atas meja, sejak pagi ia hanya termenung sendirian di atas kursi. Rasa bosannya perlahan mulai membuatnya mengantuk. Dua tangannya dilipat di atas meja untuk dijadikan alas tidur. Bagian samping wajahnya ditempelkan di atas dua lengannya dan ia pun mulai terlelap.
Ada orang yang berdiri dan mengetuk-ngetuk pintunya dari luar, beberapa ketukan sopan dan Zaza mendengarnya, tapi ia tetap tidak bergeming. Ia yakin kalau itu adalah istrinya yang datang meminta uang. Padahal baru tadi malam ia berteriak di depan muka istrinya kalau ia tidak punya uang dan akan segera memberinya uang kalau ia sudah punya. Zaza tetap acuh dengan tamunya itu. Namun ketukan itu menjadi semakin kuat dan keras hingga ia sadar kalau seorang perempuan tidak akan bisa mengetuk sekeras itu. Zaza segera berjalan menuju pintu dan bergegas membukanya. Ketukan itu semakin keras. Saat tangannya hendak meraih gagang pintu, pintu itu roboh karena diketuk terlalu kuat. Zaza menghindar ke arah samping. Dilihatnya pintu itu terbujur di lantai dan seorang laki-laki tinggi besar berdiri di hadapannya. Tangannya keras dan berotot dan lingkar dadanya besar. Laki-laki itu menatap ke arah Zaza.
“Apakah anda orang yang bernama Zaza?” tanya laki-laki itu kesal.
“Iya tuan, sayalah orangnya.”
“Oh, aku tidak diberitahu kalau ternyata kau ini tuli!”
“Tidak tuan, saya tidak tuli. Saya bisa mendengar sama seperti tuan.”
“Jadi kenapa kau tidak membuka pintunya tadi!”
Zaza sedikit bingung untuk menjawabnya. Ia tidak ingin bercerita mengenai istrinya pada orang ini, karenanya dia hanya menjawab kecil dan pelan.
“Maaf tuan, saya tidak mendengarnya tadi.”
“Apa? Kau tidak mendengar sekeras itu aku mengetuk pintunya. Berarti kau ini benar-benar tuli.”
“Iya, terserah anda saja. Mungkin memeng benar saya ini tuli.”
“Silahkan duduk tuan! Apa pun yang bisa saya bantu.”
“Tidak usah, lebih baik aku berdiri saja. Lagi pula aku tidak ingin membuat kursinya patah.”
“Aku ke sini karena disuruh untuk menjemputmu.”
“Siapa?” tanya Zaza.
“Kamu!! Apakah kau ini benar-benar tidak bisa mendengar?” laki-laki itu terlihat semakin kesal.
“Tidak tuan, anda salah paham. Maksud saya itu siapa yang menyuruh tuan untuk menjemput saya?”
“Raja, tuan raja yang menyuruhku untuk menjemputmu. Ada masalah penting dan ia membutuhkan bantuanmu. Dan tenang saja, kamu akan dibayar untuk itu.” Laki-laki itu berbicara dengan suara keras karena mengira Zaza benar-benar kurang pendengaran.
“Baik tuan, dengan senang hati.” Ia lalu mengambil selembar kertas, mencelupkan penanya ke dalam botol tinta dan menulis beberapa kalimat sederhana yang tidak akan membuat istrinya kesulitan ketika membacanya nanti.
“A-ku per-gi ti-dak la-ma, nan-ti a-ku pu-lang mem-ba-wa u-ang.” Zaza berpikir sejenak, ragu-ragu ia menulis di bawahnya, “a-ku sa-yang ka-mu.”
Zaza lalu menempel kertas itu di dinding. Sebelumnya ia cukup kewalahan ketika mengajarkan istrinya baca tulis. Ia harus mengulang huruf dan bunyi yang sama berkali-kali sampai membuatnya jengkel. Butuh waktu berminggu-minggu hingga istrinya bisa mengenal setiap huruf dan melafalkannya secara terbata-bata. Istrinya hanya mampu mengeja kata dan kalimat sederhana, tapi tetap masih tidak bisa menulis. Dia tidak sempat lagi mengajarkannya karena belakangan mereka terlalu sibuk bertengkar. Dan istrinya seringkali mengejeknya si cerdas yang tuli.
“Bisakah kau lebih cepat sedikit! Jangan membuatku menunggu terlalu lama! Apa kau tidak lihat aku berdiri sejak tadi.”
“Baik tuan, kita berangkat sekarang.”
Sebuah kereta sudah menunggu mereka di depan. Kereta itu ditarik oleh penggerak berbahan bakar rumput. Zaza duduk termenung, ia mencoba mengingat perjalanan jauh terakhirnya, dan itu sudah lama sekali. Dulu sewaktu remaja, ia sering membantu ayahnya di kebun. Ayahnya adalah seorang petani yang tekun, tapi tidak demikian dengan Zaza. Karena rasa bosannya tiap hari mencangkul, menyiram tanaman, menabur pupuk dan memetik hasil panen setiap tahun, ia pun pergi meninggalkan desa dan keluarganya. Perantauannya selama bertahun-tahun pun akhirnya membuat bosan.
Satu hal yang amat ia kagumi tentang negeri luar yang ia lalui sepanjang perjalanannya adalah telah ditemukannya cara untuk merekam suara manusia atau menampilkan isi pikiran manusia melalui huruf-huruf dan lambang yang dapat mewakili bunyi lisan manusia. Rangkaian dari huruf-huruf itu dapat didokumentasikan di atas bermacam-macan media, seperti batu, papan kayu, tanah yang dikeringkan, kulit kayu atau hewan, dan yang paling mutakhir adalah benda tipis dan lunak dengan permukaan yang bersih dan halus. Kita dapat menulis huruf-huruf tadi di atas media-media tersebut dan keajaiban pun terjadi, bagaimana dengan suatu cara yang tidak berisik tanpa suara, manusia bisa berkomunikasi satu sama lain.
Zaza sadar bahwa itu adalah suatu hal yang sederhana, namun luar biasa hebatnya. Potensi besar yang bisa ia bawa pulang, yang bisa membuat ia dihargai di negerinya jika nanti rasa rindunya memanggilnya pulang. Waktu itu ia belajar mengenal dan membaca huruf-huruf itu dari seorang anak kecil yang dikenalnya. Ia memberi anak itu dua potong roti manis dan anak itu mengajarinya membaca dan menulis.
Pada tahap selanjutnya ia belajar pada beberapa teman dan kenalannya teknik menulis indah, membaca cepat dan ia juga belajar beberapa bahasa yang berbeda dan abjad-abjad yang berlainan, mulai yang dibaca dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri. Banyak orang yang berdecak kagum bagaimana Zaza belajar semua itu begitu cepatnya. Zaza pulang dan memperkenalkan ilmu baru yang ia bawa kepada orang-orang di negerinya. Mereka menanggapinya secara beragam, sebagian tidak peduli, sebagian menganggapnya hal yang tidak penting tapi sebagian lagi menyimaknya dengan seksama.
Zaza mengumpulkan orang-orang untuk menunjukkan bagaimana ia merekam suara mereka ke dalam tulisan. Ada ratusan yang datang kala itu. Zaza menyuruh mereka mengucapkan masing-masing satu kalimat. Dan ia menulisnya, lalu ia buat semua orang terkejut bagaimana ia bisa mengingat setiap kalimat mereka dan setiap detil kata yang mereka ucapkan tadi. Semenjak itu, Zaza menjadi semakin dikenal banyak orang, ia diminta untuk mengajari mereka membaca dan menulis. Sering pula ia diminta untuk menuliskan atau membaca surat, menerjemahkan bahasa atau istilah asing atau sekedar menulis indah. Yang paling penting adalah ia dapat menghasilkan uang dengan kemampuannya itu.
Kereta itu berjalan sekian jauhnya. Hingga Zaza dan pria itu tiba di sebuah istana. Beberapa pengawal di gerbang istana mengangguk hormat kepada mereka berdua. Pria besar itu menuntun Zaza di sepanjang koridor di dalam istana. Koridor itu begitu panjang. Ada banyak sekali kamar di sisi kiri dan kanan mereka. Pria besar terlihat kebingungan mencari dan memilih kamar mana yang harus mereka masuki.
“Ahh ini dia, masuklah! Kau sudah ditunggu di dalam.” Zaza masuk ke dalamnya, ada orang yang sudah menantinya di balik pintu. “Zaza, akhirnya anda datang. Masuklah! Anda sudah ditunggu dari tadi. Silakan duduk dan nikmati suasana di sini!” laki-laki pendek dan agak gemuk itu menyambutnya dengan ramah.
“Saya sangat kelaparan tuan. Kalau boleh, saya ingin meminta sedikit makanan sebelum saya melakukan apa-apa.”
“Tentu saja boleh, anda adalah orang yang pantas untuk dihormati. Anda adalah tamu istimewa di sini.”
Tidak lama kemudian pelayan datang membawa aneka hidangan yang begitu enak dipandang dan memanjakan hidung dengan aromanya. Zaza menyesali situasinya saat itu. Kenapa makanan seenak ini tidak tersaji di meja makan di rumahnya. Dan ia bisa makan sepuasnya ditemani istrinya tanpa harus terbelenggu oleh formalitas dan perasaan seperti sekarang.
Beberapa orang lalu masuk ke ruangan itu. Mereka adalah keluarga raja dan orang-orang terdekat raja. Pria besar tadi lalu masuk membawa sebuah kotak dan menaruhnya di depan Zaza lalu ke luar lagi. Dan terakhir sang raja masuk duduk tepat di depan Zaza. Raut wajah sang raja terlihat begitu serius dan gelisah. Ia terlihat seperti orang yang telah menghabiskan waktunya berhari-hari hanya untuk memikirkan sesuatu. Sesuatu yang sangat membingungkan namun sangat penting untuk segera dipahami.
“Tuan, bisa saya mulai menjelaskan masalahnya sekarang?” raja bertanya kepada Zaza. Dan Zaza mengangguk perlahan. Ia masih sibuk memandangi kotak yang ada di depannya.
“Beberapa minggu yang lalu, aku dihantui sebuah mimpi, mimpi yang sangat buruk, tentang penyakit, kematian, luka, dan celaka dan semua tergambar begitu buruk di dalam mimpiku malam itu. Aku mengira kalau itu hanya sebuah mimpi biasa, tapi kemudian tidak kurang tiga minggu berturut-turut hingga tadi malam mimpi-mimpi itu terus saja datang. Semakin menakutkan dan membingungkan.”
Raja menatap ke arah Zaza, seluruh keluarganya dan setiap orang di ruangan itu melihat ke arahnya. Zaza terlihat kebingungan dengan situasi di depannya. Kenapa ia dihadapkan pada hal gaib di luar nalar semacam ini, atau mungkin raja telah salah memanggilnya ke sini. Tapi disimaknya cerita raja itu dengan hikmat sehikmat anak kecil yang memakan es krim di terik panas tengah hari. “Semenjak kedatangan mimpi-mimpi itu, aku mulai tidak menyukai waktu tidurku, bahkan aku membencinya. Aku berharap bisa terjaga sepanjang waktu.” Raja kemudian melipat lengan bajunya, terlihat ruam-ruam dan bercak-bercak merah menyala di kulitnya. Seperti bekas cambukan atau goresan. Dan bercak itu ada di sekujur tubuhnya, di kaki, lengan, leher, dan punggungnya.
“Anda bisa melihatnya? Satu minggu yang lalu kejadian aneh yang lain kembali terjadi. Seluruh kulitku rasanya seperti terbakar atau tersengat lebah. Belum ada obat yang bisa menyembuhkannya hingga sekarang. Anehnya penyakitku ini menghilang saat aku tidur. Dan masalahnya mimpi-mimpi itu memberi penderitaan lain dalam tidurku. Mimpi-mimpi itu bertambah ngeri, kadang ku lihat orang-orang yang ku kenal di kuliti, dibakar, kuku-kuku mereka dicabut dari jari-jari mereka, kadang ku lihat dalam mimpiku sekelompok orang menangkapku, menggigiti kulitku sampai koyak. Itu sangat menyiksa. Sekarang aku malah membenci waktu tidur dan jagaku.”
“Lalu aku mendatangi seorang dokter, ia memiliki nama yang panjang dan aneh dan ia mengobati pasiennya dengan cara yang aneh pula, ia berhubungan dengan hal-hal gaib yang dulu menurutku hanya bualan orang-orang sinting. Vivus koznat latzika. Anda tentu mengenalnya bukan?”
“Iya tuan, saya sempat belajar beberapa hal dari dia. Tapi hanya sedikit. Saya pun kurang suka dengan hal-hal gaib atau semacamnya.”
“Ha, baguslah. Ia hanya memberiku sebuah kotak berisi kertas yang bertuliskan kalimat dan huruf-huruf aneh yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Lebih mirip sebuah coretan atau garis-garis yang tidak bermakna. Dan dokter itu mengatakan andalah orang yang bisa membacanya.”
Zaza membuka kotak itu dan mengambil kertas di dalamnya. Dicermati setiap tulisan di dalamnya.
“Sebenarnya ini adalah bahasa yang sama dengan bahasa yang kita pakai, hanya saja ditulis dengan huruf dan simbol yang berbeda. Semua ini adalah huruf yang identik dengan sesuatu yang berbau gaib. Saya bisa membacanya tapi mungkin tidak dapat menjelaskan apa maksudnya.” Zaza mulai membaca isi kertas tersebut.
“Tuan raja! Apa yang anda alami sekarang mungkin terasa aneh, sangat aneh, namun tentu ada penjelasan untu setiap hal di dunia ini, tak peduli seganjil apa pun dia. Sebenarnya dunia ini mirip dengan istana anda, ada banyak kamar dan ruangan di dalamnya. Dan tempat di mana kita tinggal hanya satu kamar di antara kamar-Kamar yang lain. Mimpi ibarat sebuah lorong kecil yang menjadi penghubung antar ruangan. Manusia pada umumnya hidup nyaman dalam kamarnya masing-masing namun lain halnya mungkin dengan penghuni kamar yang lain, sialnya mungkin salah satu dari mereka masuk ke mimpi anda dan mencoba menyakiti anda.”
“Makhluk yang masuk ke dalam mimpi anda memberi penglihatan-penglihatan yang menyeramkan, ia senang melihat anda menderita. Lalu membuat rasa yang tidak enak pada kulit anda. Kita tidak bisa mengusirnya dengan memberinya sesuatu. Karena dia memang tidak mengharapkan apa-apa dari anda, dia hanya mencoba menikmati penderitaan anda. Mungkin penyebabnya adalah karena selama ini anda kurang peduli dengan penderitaaan orang lain.”
“Tapi… entahlah, saya tidak ingin menasihati anda. Saya tidak berkompeten untuk itu. Saya hanya menulis beberapa bait puisi sederhana. Percayalah, setelah puisi itu dibaca semua akan pulih seperti semula. Ini bukanlah mantera atau jampi-jampi ajaib, melainkan hanya sebuah puisi biasa. Puisi tentang pulang dan rindu.” Zaza berhenti sebentar. Dia melihat ke arah raja. Tadi itu sebuah bacaan yang aneh. Lebih mirip sebuah dongeng pengantar tidur yang sering diceritakan ibunya dulu. Raja lalu munyuruhnya untuk segera membacanya.
“Bangau-bangau terbang ke selatan, Di pagi hari ke arah gunung
Bangau-bangau terbang ke utara, Di senja hari ke arah laut
Saat itu pula seratusan, Semut kembali ke sarangnya
Tidak ada kesenangan yang lebih besar, Dibandingkan kerinduan kepada rumah
Apakah kau tak pernah terpikirkan untuk pulang
Wahai…”
Zaza berhenti, ada satu kata terakhir yang tidak ia mengerti. Mungkin itu bukan kata-kata yang biasa dipakai sehari-hari. Zaza mengernyitkan alisnya, baru kemudian ia menyadari kalau itu adalah sebuah nama. “Wahai KOJET.”
Suasana menjadi hening. Semua orang menatap raja, sedang raja sendiri menatap ke arah Zaza. Tidak ada perubahan sama sekali. Sakit di kulitnya masih terasa. Zaza menjadi agak khawatir apa ini semua hanya omong kosong atau ada kesalahan ketika tadi ia membacanya. Zaza melihat ke sudut bawah kertas, ada sebuah catatan kaki ternyata di sana yang bunyinya “Raja harus membacanya,” semua menyiratkan rasa lega mendengarnya. Nyaris mereka menganggap bahwa yang barusan mereka dengar hanya bualan orang gila. Raja kemudian mengulang puisi tadi. Sama persis di setiap baitnya. Dan benar saja perlahan rasa sakit di kulitnya menghilang. Dia segera bangkit dari kursinya dan menyalami Zaza lalu memeluknya pelan. “Terima kasih tuan, ternyata anda memang bisa diandalkan.”
Seluruh orang di ruangan itu yang sedari tadi hanya diam mendengar pun bangkit dan bertepuk tangan. Mereka ikut berterima kasih dan menyalami Zaza. Sang raja kemudian bergegas masuk ke ruang tidurnya. Memejamkan mata untuk melihat mimpi indah yang lama ia tidak lihat. Pria besar tadi masuk, sedikit tercengang dengan keberhasilan Zaza. Dan ia mengantar Zaza pulang. Sekantong uang diberikan kepada Zaza sebagai upah atau hadiah rasa terima kasih dari raja. Kali ini laki-laki itu bersikap lebih sopan kepadanya, tapi Zaza tidak peduli. Ia hanya teringat pada satu kata dari puisi tadi, “rindu”, entah kenapa ia menjadi begitu rindu pada istrinya. Rindu masa dimana mereka tidak pernah bertengkar. Sebelum turun dari kereta, Zaza bertanya kepada laki-laki tadi.
“Tuan, kalau boleh tahu siapakah nama tuan?”
“Kojet.” jawab orang itu singkat, lalu menghilang begitu cepatnya seperti air yang dituang di atas logam panas. Dan Zaza hanya terpana sebentar lalu masuk ke rumahnya, memanggil istrinya dan berhamburan memeluknya.

About Trr

WePress Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply